Kubuka kelopak mataku, sayup-sayup kumemendarkan pandangan,
Kosong!!!
Hanya sinar matahari yang merekah menyilaukan,
Hanya aku yang tengah dilanda nestapa…
Tiada kawan… tiada suara… tiada canda…
Dunia yang berputar-putar menyesakkan,
Mendadak menjadi begitu sepi dan hampa…
Mereka pergi…
Mereka meninggalkanku dalam kehampaan hidup,
Mereka begitu bengis!!! Mereka meninggalkanku yang tengah rapuh,
Jiwaku yang tengah lapuk oleh asam cinta dan kasih sayang
Aku tak mampu lagi menopang air mata
Aku tak mampu lagi menatap dunia
Kelam… begitu kelam dan begitu pekat…
Ini menyiksaku!!! Ini melukai jiwaku yang tengah layu..
Terima kasih, terima kasih atas kerelaan kalian melukaiku…
You will be better without a girl like me!!!
Senin,14
februari 2011
Yang tersakiti,
Cahaya November
Cahaya November
Kututup buku
catatanku dengan kasar, seolah mewakili kejengkelan yang tengah memenuhi
jiwaku. Aku berusaha untuk memahami apa yang tengah terjadi, namun sayangnya
aku tak bisa menemukan kata-kata untuk menguraikannya. Ini semua berjalan
begitu cepat dan diluar kendaliku. Aku kehilanga cinta, kehilangan orang yang
amat kusayangi. Kehilangan orang yang selalu membuatku bahagia, kehilangan
orang yang begitu baik, kehilangan seorang pria yang bernama Nathan. Belum juga
sirna kesedihanku, aku harus kehilangan sahabat karibku, Alfi. Ujian tak cukup
sampai disini, aku harus menerima kenyataan bahwa aku tak berarti dan tak
berguna lagi bagi kawan-kawanku. Semua ini berputar-putar di benakku,
menyesakkan dan membingungkan.
“Aya? Ada telpon dari
Icha!!”teriak mbak Laily dari ruang keluarga. Aku segera beranjak menuju meja
telpon yang ada di ruang keluarga.
“Kenapa,
Cha??”sapaku di depan gagang telepon.
“Ay, besuk
main yuk? Bosen nih libur-libur longa-longo di rumah kayak sapi ompong.”sahut
Icha sekenanya.
“Males ah,
Cha! Aku lagi pengen di rumah. Pengen nyepi!”tolakku tanpa tedeng aling-aling.
“Hello…..!! eh
si eneng ini gimana atuh? Nyepi kan
masih bulan depan!!”gurau Icha menanggapi jawabanku.”Kenapa lagi sih, kamu itu?
Mesti masih mikirin masalah-masalahmu itu? Eh neng, hidup tuh penuh rintangan!
Nggak ada rintangan malah jadi hambar!!”lanjutnya menceramahi.
“Lo kira nasi?”sahutku
ngaco.”lagi pengen sendiri aja!! Meratapi nasib!!”lanjutku sembari tersenyum
getir.
“Udah deh,
jangan ngrusak mood orang!!! Hedew…kalo kamu udah ngomong gitu, mending aku
diem.”ujar Icha menyerah.
“nah, gitu
kek, dari tadi!! Udah dulu ya, aku mau ngebo!!”ujarku sembari menutup telpon.
Huft…. Aku
berlalu menuju kamarku. Baru sampai di ambang pintu, nada sms menyambutku.
Icha juleX :kodok
nyempung rawa!!!! Maen nutup tlpon aja!!!yg nlpn syapa yg nutup syapa.
Aya nophe :hhee…abs ak buosen dgr suara cempreng
elo!!
Icha juleX :ah dsr org cina!ngluangin wktu aj pelit.a
mnta ampun!!
Aya nophe :biarin!!weeks…
Kurebahkan
tubuhku yang semakin kucel ini ke tempat tidur. Kubuka lembar-lembar dari buku
catatanku. Jemariku berhenti membolak-balikkan kertas lusuh tersebut. Sekedar
untuk meraba tulisan yang tergores dengan luapan emosi. Rangkaian-rangkaian
kalimat yang mewakili perasaanku.
Ijinkan aku, mengetuk pintu dirimu
Menciptakan rentetan kenangan baru
Mencoret, sekedar titik di lembar-lembar bukumu
Ijinkan aku, memasuki relung hatimu
Menengok ke dalam raga dan jiwamu
Sekedar menulis kisah di kehidupanmu
Ijinkan aku, mengetahui isi hatimu
Memahami dan mengerti tentangmu
Membaca setiap cerminan perasaan
Ijinkan aku, mengukir kenangan penuh warna cinta
Memahatnya dalam jengkal-jengkal memori otakmu
Ijinkan aku, menjadi pelipur laramu
Mengganti setiap gundah dengan senyuman….
27 Mei 2010
A Special day with you, in front of school.^ _^
Ingatanku
kembali pada kejadian itu. Kamis, 27 Mei 2010. terekam jelas di memori otakku,
begitu detail hingga caranya tertawa pun masih tergambar jelas di benakku.
Jarum pendek
jam yang menggantung di dinding pos satpam sekolah menunjuk angka sepuluh. Gimana sih, itu anak nggak nongol-nongol
juga!! Udah lumutan gua nunggu
disini!! Hatiku sudah mendumel sedari tadi. Ah, cowok!!! Nggak pernah on time!!
Lima menit
berlalu, akhirnya yang kutunggu datang juga. Nggak lain dan nggak bukan adalah
NATHAN!!! Duh ini cowok saban hari tambah
guanteng aja!!! (Lebay mode on). Walaupun cuma berbalut kaos oblong abu-abu
plus celana jeans biru selutut ditambah sandal jepit Diery, tapi tetep aja caem!! Bikin gue tambah cintrong!!!
Hahaha…belajar gila!!!
“Sorry lama!!
Tadi nungguin si Taqim dulu sih!!”ujarnya begitu sampai dihadapanku sembari
tersenyum penuh penyesalan.
“nggak papa
kok!!”sahutku kalem. Coba aja bukan dia, pasti udah gue maki-maki.
“Tadi kamu
kesini naik apa? Dianter sama Papamu?”Tanya Nathan sembari mengaduk-aduk isi
ransel hitamnya.
“Nggak ug!!
Aku tadi naik bus, papaku udah berangkat dari pagi”jawabku menatapnya
lekat-lekat.
“Bentar ya,
aku mau bayar SPP dulu!”ujarnya sembari meletakkan ranselnya di meja depanku.
Aku menarik
napas dengan penuh semangat. Aku merasakannya!! Aku merasakan kebahagiaan yang
aku hirup. Kebahagiaan yang memenuhi udara di sekelilingku. Kupendarkan pandanganku,
kulihat Taqim berdiri di ambang gerbang sambil pasang muka cengar-cengir. Aku
balas dengan memanyunkan bibirku.
“Mana?”tiba-tiba
Nathan sudah ada di depan meja.
Kukeluarkan
Notebook hitamku, kuserahkan ke tangan-tangan yang lentik itu. Gile!! Nih cowok apa cewek? Sama tangan gue
aja putihan tangannya!!ckckck…
“Minggu aku
balikin, ya?”tanyanya sembari memasukkannya ke dalam tasnya. Aku hanya menjawab
dengan anggukan kepala.
“Mau main
dulu, apa langsung balik?”Tanya Nathan masih berdiri dihadapanku.
“Aku langsung
pulang aja, dech!”ujarku ragu. Terbesit sebuah kekecewaan dihatiku.
“Aku anter ya?”Nathan
menawari dengan penuh keyakinan.
“Umm… nggak
usah!! Aku naik bus aja!”tolakku bimbang.
“Yaudah,
hati-hati ya!!”ujar Nathan sembari melangkah meninggalkanku.
Aku tersenyum
melihatnya pergi. Dia begitu baik. Dia sangat perhatian. Dia selalu tersenyum
bahagia ketika bersua denganku. Entahlah mungkin itu hanya perasaanku saja!!
***
Hari-hari
berjalan cepat, seolah diburu waktu. Hubunganku dengan Nathan menjadi rumit. Tak
dapat kumengerti gerangan yang terjadi.
Kenapa, kenapa engkau semakin menjauh?
Kenapa semakin sulit untuk kugapai?
Kenapa engkau menjelma menjadi bintang?
Sedangkan aku seolah-olah adalah liliput yang tak nampak,
Sulit mencapaimu, menggapaimu dan mendapatkanmu
Mampukah?
Mampukah aku bertahan dengan keadaan ini?
Mampukah aku tetap tersenyum dan berusaha menggapaimu?
Namun, kurasa tidak!!
Bayanganmu telah menjelma menjadi udara segar
Udara yang ingin dan harus kuhirup
Karena, seolah aku belum pernah bernafas
Engkau menjadi udara yang segar dikehidupanku
Namun… semakin lama, semakin aku sadari
Semakin lama semakin menyesakkanku
Engkau berubah menjadi begitu pekat…..
8 agustus 2010
Kuyakin kita kan bahagia, tanpa harus selalu bersama..
Tak perlu
disesali, tak usah ditangisi…
Ingatanku
terlempar pada kejadian itu. Minggu, 8 Agustus 2010. aku duduk di depan
kelasku, Nathan datang menghampiriku. Mimic mukanya terlihat gelisah, sama
sepertiku. Walaupun Nathan sempat bercanda dengan Gara-sahabatku, namun
kegelisahan itu tak bisa luput dari mataku. Nathan duduk disebelahku, dan tetap
menjaga jarak. Aku benar-benar merasa canggung dengannya. Meskipun aku dan dia
hanya berteman, tapi dia tidak pernah menjaga jarak seperti ini.
“Kamu kenapa
sih? Sebenernya kamu itu pengennya gimana?”tanyaku membuka pembicaraan.
“Ya, kamu
takut nggak sama mamamu?”Nathan balik bertanya dengan pertanyaan yang
melenceng.
“Ya takutlah!!
Namanya juga sama mama.”jawabku sembari memainkan cardigan abu-abu yang
tersampir dilenganku. Nathan tidak menanggapi jawabanku. Diam membisu. Suasana
yang tidak mengenakkan. Setelah beberapa menit, dia baru menanggapi.
“Aku juga
takut, Ya.”ujar Nathan datar.
“Terus
kita….”ujarku menggantung.
“Kita temenan
aja!”ujar Nathan melanjutkan ucapanku.
Kupejamkan
mataku. Menahan supaya tak meneteskan air mata. Lama aku dan Nathan terkungkung
dalam kebisuan yang mencekam. Aku berlalu begitu saja, meninggalkannya tanpa
pamit. Tanpa niatan untuk menoleh. Memang harus seperti ini dan selalu seperti
ini. Betapa lemahnya aku. Betapa hinanya aku. Wanita murahan!! Aku benar-benar
wanita bodoh yang tak bisa membohongi diriku sendiri. meskipun kebohongan itu
untuk menguatkanku sekalipun. Tangisku pecah. Butiran-butiran mutiara bening
yang mengalir tanpa bisa kucegah. Dan aku membiarkannya jatuh begitu saja.
Biarlah, biarlah cairan hangat ini mewakili kepedihanku.
Hari-hariku
menjadi begitu kacau. Aku berusaha untuk menerima kenyataan ini. Aku berusaha
untuk beradaptasi dengan keadaan ini. Namun, itu tak semudah mengedipkan mata.
Ketika aku berusaha untuk bangkit dan bertahan dengan keadaan ini, aku harus
menerima kenyataan bahwa aku jatuh tersungkur. Entahlah tersungkur untuk
keberapa kali. Aku tak kuasa bersua dengannya. Bahkan aku tak sanggup
melihatnya dari jauh sekalipun. Ini menyakitkan. Berlembar-lembar puisi cinta
mewakili perasaanku. Kesedihan yang tengah menyergap jiwaku membuatku lupa akan
makna kehidupan. Aku terbuai dalam belaian air mata dan kesedihan. Menyesakkan.
Menyakitkan ketika aku harus tetap bernafas sedangkan udara begitu pekat.
Air mataku
terus merebak. Membelah pipiku. Aku tak kuasa menahan kesedihan ini. Kesedihan
yang bertubi-tubi menyergapku. Kesedihan yang membuatku lupa akan Zat yang
selalu dan terus mencintaiku.
Aku bangkit
dari tidurku. Jam beker kuning menusuk angka dua belas dan satu. Aku beranjak
mengambil air wudlu. Dengan mukena biru satin, kucurahkan kesedihanku kepada
Sang Penyayang. Kumintakan ampun atas dosa-dosa yang selama ini menyelimuti
jiwaku. Kumintakan cahaya untuk menyinari hatiku yang redup.
“Ya Allah,
Engkaulah penolong sejatiku. Namun, aku seperti seorang penyelam yang tersesat
di kedalaman samudera. Setiap kali kudekatkan diriku kepadaMu, lagi-lagi cobaan
itu datang. Sungguh aku takut kafir, ya Allah!! Kusadari imanku lemah, Kau
ambil duniaku demi keagunganMu, aku ikhlas. Tapi, demi keagunganmu pula, jangan
kau ambil cinta yang mulai bersemayam di kalbuku ini*. Aku yakin dan percaya,
jika memang ia jodohku, kelak Kau akan mempertemukan kami!!”
Apa gunanya
cinta yang terselubungi dosa, sedangkan ada sebuah cinta yang agung?
Kuhapus air mata yang masih hangat di pipiku.
Kumantapkan niatku untuk bangkit. Tak ada yang bisa menghentikan tekadku. Tekad
untuk memulai jalan hidupku, dengan alur cerita yang baru dan lebih menarik.
Dengan perwatakan yang lebih unggul dari cerita hidup siapapun. Hidupku ada di
genggaman Allah dan ada di tanganku, tak seorangpun bisa mengatur hidupku. Hanya
aku dan Allah. Selalu.
Dan kumenanti datangnya mentari esok hari,
Untuk kukabarkan pada dunia,
Betapa bahagianya aku, yang dipeluk Allah.
Betapa bahagianya aku, yang masih bisa mengukir kisah baru di
kehidupanku.
Nb:*(Hadits
Qudsi)
Buah pena:Thaby Lycencee Simon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar