Jumat, 13 Juli 2012

tangis

aku nggak pernah nyangka ini bakal terjadi.... bukankah aku udah berkorban banyak. aku rela dicaci mantan mantanmu. aku rela dicaci temen temenmu, aku rela diledekin sepupuku, aku rela dilabrak sahabatmu.
aku simpan sendirian, aku pendam segalanya......
aku berusaha selalu ada untukmu, aku berusaha menjadi segala hal dalam hidupmu, bahkan aku berusaha memaklumi saat kau melampiaskan marahmu padaku..
aku berusaha tegar dihadapan semua orang, meski kenyataanya susah..
tak terhitung berapa kali aku menangis, tak terhitung berapa kali aku engkau campakan, tak terhitung lagi berapa kali kau ombang ambingkan perasaanku..
aku hanya wanita lemah, yang sering kali merasa terabaikan oleh dunia. hanya kau, jujur hanya kau yang mampu membuatku tegar berdiri.... hanya kau yang mampu membustku kembali bangkit dan melanjutkan segala perjuanganku, namun...... harus beginilah akhir kisah kita...
aku sadar kelak suatu saat kau akan mencintai wanita lain dan pergi menjauh....
seperti itulah hidup. saat aku berpikir itu akan terjadi, maka terjadi....
kau berlalu tanpa penjelasan, kau berlalu menyisakan air mataku, bahkan kau memintaku untuk tetap berada pada posisiku. kau berdalih untuk saling mendewasakan diri. kau pikir semudah itu? kau pikir hatiku batu?? apakah aku harus diam saja saat kau bagi hatimu itu???? persetan dengan segala janji janji busukmu!!!!
kali ini, tak ada kata kutukan dari bibirku, tapi ingatlah Tuhan yang akan membalas segala sakit yang kurasa...

Kamis, 10 Mei 2012

cerpen Cahaya November




Kubuka kelopak mataku, sayup-sayup kumemendarkan pandangan,
Kosong!!!
Hanya sinar matahari yang merekah menyilaukan,
Hanya aku yang tengah dilanda nestapa…
Tiada kawan… tiada suara… tiada canda…
Dunia yang berputar-putar menyesakkan,
Mendadak menjadi begitu sepi dan hampa…
Mereka pergi…
Mereka meninggalkanku dalam kehampaan hidup,
Mereka begitu bengis!!! Mereka meninggalkanku yang tengah rapuh,
Jiwaku yang tengah lapuk oleh asam cinta dan kasih sayang
Aku tak mampu lagi menopang air mata
Aku tak mampu lagi menatap dunia
Kelam… begitu kelam dan begitu pekat…
Ini menyiksaku!!! Ini melukai jiwaku yang tengah layu..
Terima kasih, terima kasih atas kerelaan kalian melukaiku…
You will be better without a girl like me!!!
Senin,14 februari 2011
Yang tersakiti,
Cahaya November
Cahaya November

Kututup buku catatanku dengan kasar, seolah mewakili kejengkelan yang tengah memenuhi jiwaku. Aku berusaha untuk memahami apa yang tengah terjadi, namun sayangnya aku tak bisa menemukan kata-kata untuk menguraikannya. Ini semua berjalan begitu cepat dan diluar kendaliku. Aku kehilanga cinta, kehilangan orang yang amat kusayangi. Kehilangan orang yang selalu membuatku bahagia, kehilangan orang yang begitu baik, kehilangan seorang pria yang bernama Nathan. Belum juga sirna kesedihanku, aku harus kehilangan sahabat karibku, Alfi. Ujian tak cukup sampai disini, aku harus menerima kenyataan bahwa aku tak berarti dan tak berguna lagi bagi kawan-kawanku. Semua ini berputar-putar di benakku, menyesakkan dan membingungkan.
“Aya? Ada telpon dari Icha!!”teriak mbak Laily dari ruang keluarga. Aku segera beranjak menuju meja telpon yang ada di ruang keluarga.
“Kenapa, Cha??”sapaku di depan gagang telepon.
“Ay, besuk main yuk? Bosen nih libur-libur longa-longo di rumah kayak sapi ompong.”sahut Icha sekenanya.
“Males ah, Cha! Aku lagi pengen di rumah. Pengen nyepi!”tolakku tanpa tedeng aling-aling.
“Hello…..!! eh si eneng ini gimana atuh? Nyepi kan masih bulan depan!!”gurau Icha menanggapi jawabanku.”Kenapa lagi sih, kamu itu? Mesti masih mikirin masalah-masalahmu itu? Eh neng, hidup tuh penuh rintangan! Nggak ada rintangan malah jadi hambar!!”lanjutnya menceramahi.
“Lo kira nasi?”sahutku ngaco.”lagi pengen sendiri aja!! Meratapi nasib!!”lanjutku sembari tersenyum getir.
“Udah deh, jangan ngrusak mood orang!!! Hedew…kalo kamu udah ngomong gitu, mending aku diem.”ujar Icha menyerah.
“nah, gitu kek, dari tadi!! Udah dulu ya, aku mau ngebo!!”ujarku sembari menutup telpon.
Huft…. Aku berlalu menuju kamarku. Baru sampai di ambang pintu, nada sms menyambutku.
Icha juleX          :kodok nyempung rawa!!!! Maen nutup tlpon aja!!!yg nlpn syapa yg nutup syapa.
Aya nophe          :hhee…abs ak buosen dgr suara cempreng elo!!
Icha juleX          :ah dsr org cina!ngluangin wktu aj pelit.a mnta ampun!!
Aya nophe          :biarin!!weeks…

Kurebahkan tubuhku yang semakin kucel ini ke tempat tidur. Kubuka lembar-lembar dari buku catatanku. Jemariku berhenti membolak-balikkan kertas lusuh tersebut. Sekedar untuk meraba tulisan yang tergores dengan luapan emosi. Rangkaian-rangkaian kalimat yang mewakili perasaanku.

Ijinkan aku, mengetuk pintu dirimu
Menciptakan rentetan kenangan baru
Mencoret, sekedar titik di lembar-lembar bukumu
Ijinkan aku, memasuki relung hatimu
Menengok ke dalam raga dan jiwamu
Sekedar menulis kisah di kehidupanmu
Ijinkan aku, mengetahui isi hatimu
Memahami dan mengerti tentangmu
Membaca setiap cerminan perasaan
Ijinkan aku, mengukir kenangan penuh warna cinta
Memahatnya dalam jengkal-jengkal memori otakmu
Ijinkan aku, menjadi pelipur laramu
Mengganti setiap gundah dengan senyuman….
27 Mei 2010
A Special day with you, in front of school.^ _^
Ingatanku kembali pada kejadian itu. Kamis, 27 Mei 2010. terekam jelas di memori otakku, begitu detail hingga caranya tertawa pun masih tergambar jelas di benakku.
Jarum pendek jam yang menggantung di dinding pos satpam sekolah menunjuk angka sepuluh. Gimana sih, itu anak nggak nongol-nongol juga!! Udah lumutan gua nunggu disini!! Hatiku sudah mendumel sedari tadi. Ah, cowok!!! Nggak pernah on time!! Lima menit berlalu, akhirnya yang kutunggu datang juga. Nggak lain dan nggak bukan adalah NATHAN!!! Duh ini cowok saban hari tambah guanteng aja!!! (Lebay mode on). Walaupun cuma berbalut kaos oblong abu-abu plus celana jeans biru selutut ditambah sandal jepit Diery, tapi tetep aja caem!! Bikin gue tambah cintrong!!! Hahaha…belajar gila!!!
“Sorry lama!! Tadi nungguin si Taqim dulu sih!!”ujarnya begitu sampai dihadapanku sembari tersenyum penuh penyesalan.
“nggak papa kok!!”sahutku kalem. Coba aja bukan dia, pasti udah gue maki-maki.
“Tadi kamu kesini naik apa? Dianter sama Papamu?”Tanya Nathan sembari mengaduk-aduk isi ransel hitamnya.
“Nggak ug!! Aku tadi naik bus, papaku udah berangkat dari pagi”jawabku menatapnya lekat-lekat.
“Bentar ya, aku mau bayar SPP dulu!”ujarnya sembari meletakkan ranselnya di meja depanku.
Aku menarik napas dengan penuh semangat. Aku merasakannya!! Aku merasakan kebahagiaan yang aku hirup. Kebahagiaan yang memenuhi udara di sekelilingku. Kupendarkan pandanganku, kulihat Taqim berdiri di ambang gerbang sambil pasang muka cengar-cengir. Aku balas dengan memanyunkan bibirku.
“Mana?”tiba-tiba Nathan sudah ada di depan meja.
Kukeluarkan Notebook hitamku, kuserahkan ke tangan-tangan yang lentik itu. Gile!! Nih cowok apa cewek? Sama tangan gue aja putihan tangannya!!ckckck…
“Minggu aku balikin, ya?”tanyanya sembari memasukkannya ke dalam tasnya. Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Mau main dulu, apa langsung balik?”Tanya Nathan masih berdiri dihadapanku.
“Aku langsung pulang aja, dech!”ujarku ragu. Terbesit sebuah kekecewaan dihatiku.
“Aku anter ya?”Nathan menawari dengan penuh keyakinan.
“Umm… nggak usah!! Aku naik bus aja!”tolakku bimbang.
“Yaudah, hati-hati ya!!”ujar Nathan sembari melangkah meninggalkanku.
Aku tersenyum melihatnya pergi. Dia begitu baik. Dia sangat perhatian. Dia selalu tersenyum bahagia ketika bersua denganku. Entahlah mungkin itu hanya perasaanku saja!!
***

Hari-hari berjalan cepat, seolah diburu waktu. Hubunganku dengan Nathan menjadi rumit. Tak dapat kumengerti gerangan yang terjadi.

Kenapa, kenapa engkau semakin menjauh?
Kenapa semakin sulit untuk kugapai?
Kenapa engkau menjelma menjadi bintang?
Sedangkan aku seolah-olah adalah liliput yang tak nampak,
Sulit mencapaimu, menggapaimu dan mendapatkanmu
Mampukah?
Mampukah aku bertahan dengan keadaan ini?
Mampukah aku tetap tersenyum dan berusaha menggapaimu?
Namun, kurasa tidak!!
Bayanganmu telah menjelma menjadi udara segar
Udara yang ingin dan harus kuhirup
Karena, seolah aku belum pernah bernafas
Engkau menjadi udara yang segar dikehidupanku
Namun… semakin lama, semakin aku sadari
Semakin lama semakin menyesakkanku
Engkau berubah menjadi begitu pekat…..
8 agustus 2010
Kuyakin kita kan bahagia, tanpa harus selalu bersama..
Tak perlu disesali, tak usah ditangisi…
Ingatanku terlempar pada kejadian itu. Minggu, 8 Agustus 2010. aku duduk di depan kelasku, Nathan datang menghampiriku. Mimic mukanya terlihat gelisah, sama sepertiku. Walaupun Nathan sempat bercanda dengan Gara-sahabatku, namun kegelisahan itu tak bisa luput dari mataku. Nathan duduk disebelahku, dan tetap menjaga jarak. Aku benar-benar merasa canggung dengannya. Meskipun aku dan dia hanya berteman, tapi dia tidak pernah menjaga jarak seperti ini.
“Kamu kenapa sih? Sebenernya kamu itu pengennya gimana?”tanyaku membuka pembicaraan.
“Ya, kamu takut nggak sama mamamu?”Nathan balik bertanya dengan pertanyaan yang melenceng.
“Ya takutlah!! Namanya juga sama mama.”jawabku sembari memainkan cardigan abu-abu yang tersampir dilenganku. Nathan tidak menanggapi jawabanku. Diam membisu. Suasana yang tidak mengenakkan. Setelah beberapa menit, dia baru menanggapi.
“Aku juga takut, Ya.”ujar Nathan datar.
“Terus kita….”ujarku menggantung.
“Kita temenan aja!”ujar Nathan melanjutkan ucapanku.
Kupejamkan mataku. Menahan supaya tak meneteskan air mata. Lama aku dan Nathan terkungkung dalam kebisuan yang mencekam. Aku berlalu begitu saja, meninggalkannya tanpa pamit. Tanpa niatan untuk menoleh. Memang harus seperti ini dan selalu seperti ini. Betapa lemahnya aku. Betapa hinanya aku. Wanita murahan!! Aku benar-benar wanita bodoh yang tak bisa membohongi diriku sendiri. meskipun kebohongan itu untuk menguatkanku sekalipun. Tangisku pecah. Butiran-butiran mutiara bening yang mengalir tanpa bisa kucegah. Dan aku membiarkannya jatuh begitu saja. Biarlah, biarlah cairan hangat ini mewakili kepedihanku.
Hari-hariku menjadi begitu kacau. Aku berusaha untuk menerima kenyataan ini. Aku berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan ini. Namun, itu tak semudah mengedipkan mata. Ketika aku berusaha untuk bangkit dan bertahan dengan keadaan ini, aku harus menerima kenyataan bahwa aku jatuh tersungkur. Entahlah tersungkur untuk keberapa kali. Aku tak kuasa bersua dengannya. Bahkan aku tak sanggup melihatnya dari jauh sekalipun. Ini menyakitkan. Berlembar-lembar puisi cinta mewakili perasaanku. Kesedihan yang tengah menyergap jiwaku membuatku lupa akan makna kehidupan. Aku terbuai dalam belaian air mata dan kesedihan. Menyesakkan. Menyakitkan ketika aku harus tetap bernafas sedangkan udara begitu pekat.
Air mataku terus merebak. Membelah pipiku. Aku tak kuasa menahan kesedihan ini. Kesedihan yang bertubi-tubi menyergapku. Kesedihan yang membuatku lupa akan Zat yang selalu dan terus mencintaiku.
Aku bangkit dari tidurku. Jam beker kuning menusuk angka dua belas dan satu. Aku beranjak mengambil air wudlu. Dengan mukena biru satin, kucurahkan kesedihanku kepada Sang Penyayang. Kumintakan ampun atas dosa-dosa yang selama ini menyelimuti jiwaku. Kumintakan cahaya untuk menyinari hatiku yang redup.
“Ya Allah, Engkaulah penolong sejatiku. Namun, aku seperti seorang penyelam yang tersesat di kedalaman samudera. Setiap kali kudekatkan diriku kepadaMu, lagi-lagi cobaan itu datang. Sungguh aku takut kafir, ya Allah!! Kusadari imanku lemah, Kau ambil duniaku demi keagunganMu, aku ikhlas. Tapi, demi keagunganmu pula, jangan kau ambil cinta yang mulai bersemayam di kalbuku ini*. Aku yakin dan percaya, jika memang ia jodohku, kelak Kau akan mempertemukan kami!!”
Apa gunanya cinta yang terselubungi dosa, sedangkan ada sebuah cinta yang agung?
 Kuhapus air mata yang masih hangat di pipiku. Kumantapkan niatku untuk bangkit. Tak ada yang bisa menghentikan tekadku. Tekad untuk memulai jalan hidupku, dengan alur cerita yang baru dan lebih menarik. Dengan perwatakan yang lebih unggul dari cerita hidup siapapun. Hidupku ada di genggaman Allah dan ada di tanganku, tak seorangpun bisa mengatur hidupku. Hanya aku dan Allah. Selalu.
Dan kumenanti datangnya mentari esok hari,
Untuk kukabarkan pada dunia,
Betapa bahagianya aku, yang dipeluk Allah.
Betapa bahagianya aku, yang masih bisa mengukir kisah baru di kehidupanku.

Nb:*(Hadits Qudsi)

Buah pena:Thaby Lycencee Simon

Rabu, 09 Mei 2012

untuk sahabat tercinta


Asa ku pergi….
Lenyap tersapu badai hati
Tersisa air mata yang tiada mengering
Hatiku begitu pilu…
            Ingin, aku hilang dari bumi ini…
            Ingin, aku terhempas ke dalam jurang yang curam…
            Ingin, aku tak nampak oleh matahari…
Menutup segala gundah hati…
Menghapus ingatan tentang bayangmu
Membungkam diam lisan yang hendak berteriak
            Energi purba…
            Energi yang mampu memporak porandakan hidupku…
            Energi yang mampu membuat diriku terbuai…
            Energi yang saat ini tengah mengguncang diriku…
Tak sanggup aku bertahan pada keadaan ini
Tak mampu aku tegak berdiri di tempat ini
Tak mampu hatiku menahan gejolak ini
Tak mampu lagi bernapas di naungan bayangmu
            Letih mencoba bangkit…
            Terseok seok mengumpulkan tenaga
            Menata keping puzzle hati…
            Menyembuhkan luka yang tlah tertoreh…
Ku kira, semua tak peduli…
Ku kira semua mengacuhkan diri ini…
Ternyata aku salah…
Mereka, orang orang yang slalu ada untuk ku…
Mereka, orang orang yang slalu mendukungku…
Mereka memberiku semangat untuk bangkit…
            Mereka memapahku dengan  kasih sayang…
            Mereka menghiburku dengan canda mereka…
            Mereka menyayangiku…
            Mereka orang orang terhebat yang pernah ada…
Tanpa mereka, entah lah apakah aku masih mampu tersenyum…
Tanpa mereka, entah lah apakah aku akan ada di sini…
Tanpa mereka, entah lah apakah aku mampu bangkit…
Tanpa mereka…
Entah lah…
Mungkin, aku tak akan tersenyum dan berada di tempat ini
Di antara orang orang yang mengasihiku seperti kekasih mereka..

Aku bahagia…
Mereka menyelamatkanku dari belenggu yang kubuat…
Mereka tertawa bersamaku…
Di tempat ini…di hari yang ku nanti….

            Nb: for my beloved friends; bebek o’im, bebek icho, bebek nurma, kiky, rina, tarjoe, nopenk, tinjja.
            Thaby lycencee simon
Selasa 19 oktober 2010

Minggu, 22 April 2012

my first posting

setelah mengarngi samudera try out, dan tembok ujian nasional,akhirnya kesampean juga saya bikin blog.